Kuliah tamu kolaboratif yang membahas perjalanan ilmu dalam peradaban Barat serta fenomena westernisasi ilmu, topik yang notably penting dalam dunia pendidikan Islam modern telah sukses digelar pada Kamis, 20 November 2025. Kegiatan inspiratif ini menghadirkan dua narasumber dari Malaysia atau lebih tepatnya di Akademi Pengajian Islam Kontemporari Universitas Teknologi MARA Shah Alam, yakni Dr. Muhammad Remy Bin Othman dan Nur Hafizah Harun, keduanya merupakan akademisi ternama yang dikenal aktif meneliti isu-isu peradaban, ilmu, dan modernitas dalam konteks dunia Islam kontemporer.
Meskipun dilaksanakan secara daring, kegiatan ini tetap berlangsung hangat, interaktif, dan penuh antusiasme. Para peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari perguruan tinggi Universitas Darunnajah terlihat aktif berdiskusi, memberikan pertanyaan, dan menanggapi pemikiran para pemateri. Format virtual sama sekali tidak mengurangi esensi dan semangat intelektual dari kegiatan ini. Justru kolaborasi lintas negara yang terjalin lewat ruang digital menjadikan acara semakin inklusif dan terbuka.
Mengupas Jejak Ilmu dalam Sejarah Peradaban Barat
Dalam sesi pertama, Dr. Muhammad Remy Bin Othman memaparkan dengan cermat sejarah panjang perkembangan ilmu dalam peradaban Barat. Ia menyoroti bagaimana tradisi intelektual Barat berkembang dari akar-akar filsafat Yunani klasik, kemudian mengalami transformasi besar melalui masa renaisans, reformasi, dan revolusi ilmiah.
Menurutnya, ilmu pengetahuan di Barat tidak lahir dalam ruang hampa, tetapi merupakan hasil dari pergulatan panjang antara rasionalitas, kekuasaan gereja, dan dinamika sosial masyarakat Eropa kala itu. “Perjalanan panjang ini membentuk paradigma ilmiah yang kemudian menjadi fondasi dunia modern,” ujar Dr. Remy. Ia juga menyinggung bagaimana aspek sekularisasi turut mempengaruhi arah perkembangan ilmu, hingga akhirnya menempatkan manusia sebagai pusat dari segala pencarian makna dan kebenaran.
Paparan yang disampaikan secara sistematis itu menggugah kesadaran peserta bahwa ilmu memiliki sejarah dan konteks peradaban yang tidak lepas dari nilai, kepentingan, serta pandangan dunia suatu masyarakat. Dr. Remy mendorong peserta untuk melihat ilmu bukan hanya sebagai produk universal, tetapi juga sebagai refleksi dari peradaban yang melahirkannya.
Fenomena Westernisasi Ilmu dan Tantangan Dunia Islam
Pada sesi berikutnya, Nur Hafizah Harun melanjutkan pembahasan dengan mengulas fenomena westernisasi ilmu yang terjadi dalam konteks pendidikan modern. Ia menjelaskan bahwa westernisasi ilmu terjadi ketika paradigma, nilai, serta kerangka berpikir Barat diadopsi secara luas oleh berbagai sistem pendidikan dunia, termasuk di dunia Islam, tanpa penyaringan nilai.
“Westernisasi tidak selalu bermakna negatif, tetapi perlu dihadapi dengan sikap kritis dan selektif. Kita harus mampu membedakan antara aspek metodologis yang bisa dimanfaatkan dan aspek ideologis yang bertentangan dengan worldview Islam,” jelasnya.
Nur Hafizah juga menyoroti pentingnya integrasi ilmu, yakni menggabungkan antara nilai-nilai keislaman dengan metodologi ilmiah modern. Ia mengajak peserta untuk mengembangkan pendekatan pendidikan yang berdiri di atas prinsip tauhid, yang melihat ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan sekadar alat eksploitasi dunia.
Diskusi menjadi semakin hidup saat para peserta mengajukan pertanyaan seputar posisi universitas Islam dalam menanggapi arus globalisasi ilmu. Beberapa peserta mengangkat isu kurikulum, epistemologi Islam, serta pentingnya melahirkan ilmuwan Muslim yang kritis namun berakar kuat pada nilai-nilai keislaman. Interaksi dua arah inilah yang membuat suasana kuliah tamu terasa dinamis dan penuh makna.
Kegiatan Collaborative Guest Lecture 2025 ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga simbol sinergi antarnegara dalam membangun kesadaran intelektual umat. Melalui pertemuan daring yang berlangsung hampir tiga jam, peserta mendapatkan wawasan berharga tentang bagaimana memahami ilmu secara historis dan filosofis, serta bagaimana umat Islam dapat berperan aktif dalam menata kembali paradigma keilmuan yang Islami.
Acara ditutup dengan refleksi kolektif dari moderator dan peserta yang menegaskan pentingnya terus menjalin kolaborasi lintas institusi dan negara untuk memperkuat semangat integrasi ilmu. Beberapa peserta bahkan menyampaikan kesan mendalam terhadap gaya penyampaian para narasumber yang komunikatif dan inspiratif.
Melalui kegiatan seperti ini diharapkan kesadaran akan pentingnya membangun epistemologi ilmu berbasis nilai Islam semakin tumbuh di kalangan akademisi dan mahasiswa. Kolaborasi semacam ini menjadi bukti bahwa meski terpisah oleh jarak dan ruang, semangat untuk mencari dan menata kembali ruh keilmuan Islam tetap menyala dan terus menghubungkan komunitas intelektual lintas batas.




