Jakarta, 25 Juni 2026 – Di tengah akselerasi era Society 5.0 dan disrupsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif, dunia pendidikan Islam dihadapkan pada tantangan yang tidak kasat mata namun berdampak nyata: krisis kesehatan mental generasi muda akibat fenomena hiperkoneksi digital. Keprihatinan ini menjadi titik tolak dalam pemaparan materi bertajuk “Rekonstruksi Tarbiyah Kontemporer dan Psikologi Pendidikan Islam di Era AI”, tajuk ini berdasarkan kerjasama Pengajian Islam Kontemporari (ACIS), UiTM dan Universitas Darunnajah.yang disampaikan oleh pakar psikologi dan pendidikan Islam, Rahman Saktiawan R. Kalake, M.Psi.
Mengacu pada data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2018) dan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2024), Rahman mengungkapkan bahwa lebih dari 30 juta penduduk Indonesia saat ini mengalami gangguan kesehatan mental dalam berbagai tingkatan, mulai dari stres dan kecemasan hingga depresi akut. Lebih jauh, ia menegaskan bahwa krisis ini tidak semata-mata berdimensi medis, melainkan merupakan krisis spiritual yang timbul ketika manusia terputus dari sumber nilai tertingginya.
“Kesehatan dan kesakitan bukan sekadar isu medis, melainkan kondisi biopsikososial dan spiritual yang terintegrasi. Ketika manusia menjauh dari sang Pencipta, realitas internalnya akan retak,” tegas Rahman Saktiawan R. Kalake, M.Psi.
Menghadapi tekanan era digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, Rahman menekankan bahwa ketenangan sejati yang ia konseptualisasikan sebagai The Orbit of Tranquility hanya dapat dicapai melalui pendekatan spiritualitas yang kokoh. Landasan normatifnya merujuk pada Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28, yang menegaskan bahwa ketentraman hati sejati bersumber dari zikir kepada Allah SWT.

Pendekatan ini, menurutnya, harus menjadi ruh dalam praktik pendidikan Islam kontemporer, yakni dengan menyeimbangkan dimensi biologis (basyar) dan dimensi mental (insan) peserta didik agar mampu menghadapi disrupsi era AI tanpa kehilangan identitas spiritual dan moralnya.
Dalam konteks di mana berbagai fungsi manusia kini mulai diambil alih oleh kecerdasan buatan, Rahman menegaskan bahwa ekosistem keluarga dan pendidik tetap memiliki posisi yang tidak tergantikan. Ia menyebut tiga peran besar pendidik dalam tradisi Islam yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin:
1. Murabbi — Pendidik spiritual dan afektif yang hadir dengan sentuhan cinta kasih, empati, dan bimbingan kepribadian secara holistik. Dimensi afektif yang mendalam inilah yang menjadi batas tegas antara pendidik manusia dan algoritma mesin.
2. Mu’addib — Penanam adab dan etika digital yang sekaligus berfungsi sebagai teladan nyata (uswah hasanah) bagi generasi muda dalam berinteraksi di ruang virtual. Di sinilah peran sentral pendidik sebagai model perilaku yang dapat diteladani secara langsung.
3. Mursyid — Pemandu teologis yang membantu peserta didik membedakan tafsir yang sahih dari narasi-narasi menyesatkan yang beredar di dunia maya. Peran ini menjadi semakin krusial seiring maraknya disinformasi dan konten bermuatan ideologi yang tidak tervalidasi di ruang digital.
Menutup pemaparannya, Rahman Saktiawan R. Kalake, M.Psi. menyampaikan sejumlah rekomendasi kebijakan yang bersifat aksiologis dan strategis bagi lembaga pendidikan Islam maupun pemerintah, antara lain:
- Integrasi Kurikulum Etika Digital Islami berbasis Maqashid Al-Shariah sebagai kerangka normatif pengembangan literasi digital di lembaga pendidikan Islam;
- Pelatihan TPACK Integratif (Technological Pedagogical Content Knowledge) bagi para pendidik guna memperkuat kompetensi pedagogis berbasis teknologi yang tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman;
- Penyusunan SOP Keamanan dan Privasi Data Digital yang ketat di seluruh lembaga pendidikan Islam sebagai bentuk perlindungan terhadap peserta didik di ruang siber;
- Penyediaan Media Belajar Adaptif dan Inklusif yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.
Melalui rekonstruksi konsep tarbiyah yang relevan dengan konteks kekinian dan penguatan dimensi psikologi pendidikan Islam, diharapkan generasi muda Muslim dapat bernavigasi di era AI dengan fondasi mental dan spiritual yang kokoh, serta integritas epistemik yang terjaga. Bagi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, paparan ini menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan lembaga pendidikan Islam ke depan harus mampu mengintegrasikan dimensi teknologi, spiritualitas, dan etika secara simultan dan sinergis.




