Universitas Darunnajah, Jakarta (24/10) menggelar workshop bertajuk “Manajemen Kepengasuhan Santri” yang dihadiri oleh 200 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Acara yang berlangsung di aula Al-Ghazali ini dihadiri oleh Dr. KH. Sofwan Manaf, M.Si., Presiden Universitas Darunnajah dan Dr. Much. Hasan, Rektor Universitas Darunnajah.
Workshop yang berlangsung sejak pukul 08.00-13.00 WIB menghadirkan empat pembicara dalam bidang pendidikan pesantren. Dr. H. Adian Husaini, M.Si., Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sekaligus Kaprodi Doktor PAI UIKA Bogor, menyampaikan tentang “Urgensi Adab Pendidikan Agama di Pesantren”. Dilanjutkan dengan pemaparan Ust. Bendri Jaisyurrahman tentang “Faktor Terjadinya Bullying serta Dampak Terhadap Kesehatan Mental”. Ustadzah Duna Izfana, M.Ed., Ph.D., Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Darunnajah menjelaskan “Model Pola Asuh Siswa di Pondok Pesantren Darunnajah”, dan ditutup oleh Mr. Ali Abdullah, B.I.S., Imam dan DAI dari Australia dengan pembahasan “Model Pola Asuh Siswa di Australia”.
Peserta workshop berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, tim pengasuhan pesantren, tim kurikulum, guru, hingga kepala pembina dan pimpinan pesantren. Kehadiran multi-stakeholder ini menunjukkan kesadaran kolektif bahwa pengasuhan santri membutuhkan pendekatan holistik dan kolaboratif dari seluruh elemen pendidikan.
Yang menarik dari workshop ini adalah perbandingan langsung pola asuh Islam di Indonesia dan Australia yang dipaparkan oleh praktisi kedua negara. Mr. Ali Abdullah memberikan perspektif unik tentang integrasi nilai-nilai Islam dengan pendekatan modern dalam sistem pendidikan Australia. Diskusi interaktif yang berlangsung membuka wawasan baru tentang berbagai tantangan kontemporer dalam pendidikan Islam di kedua negara.
Beberapa poin penting yang mengemuka dalam diskusi antara lain:
1. Perbandingan pola asuh Barat dan Timur dalam konteks pendidikan Islam
2. Model-model pengasuhan yang adaptif terhadap perkembangan zaman
3. Strategi pembinaan karakter yang disesuaikan dengan konteks budaya
Workshop ini tidak hanya menjadi wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi antar pesantren. Para peserta sepakat membentuk forum komunikasi permanen untuk memfasilitasi pertukaran informasi dan pengalaman secara berkelanjutan. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong pengembangan sistem pengasuhan santri yang lebih berkualitas di masa mendatang.
Penulis: Nila Mafaza




